Berdasarkan pada implikasi andragogi untuk praktek dalam proses pembelajaran
kegiatan pelatihan, maka perlu ditempuh langkah-langkah pokok sebagai berikut:
1. Menciptakan Iklim
Pembelajaran yang Kondusif
- Pengaturan
Lingkungan Fisik
Pengaturan
lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa
terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman
mungkin:
· Penataan dan
peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa.
· Alat peraga
dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik
orang dewasa.
· Penataan ruangan,
pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya
interaksi sosial.
- Pengaturan
Lingkungan Sosial dan Psikologis
Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu
faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung. Untuk
itu diperlukan:
· Fasilitator lebih bersifat membantu dan mendukung.
· Mengembangkan suasana
bersahabat, informal dan santai.
·Menciptakan
suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut.
· Mengembangkan semangat kebersamaan.
· Menghindari
adanya pengarahan dari siapapun.
· Menyusun kontrak
belajar yang disepakati bersama
2. Diagnosis Kebutuhan
Belajar
Dalam
andragogi tekanan lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh
warga/peserta belajar di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan
belajarnya:
- Melibatkan
seluruh pihak terkait (stakeholder)
terutama pihak yang terkena dampak langsung atas kegiatan itu.
- Membangun
dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang
diharapkan
- Menyediakan
berbagai pengalaman yang dibutuhkan.
- Lakukan perbandingan antara yang diharapkan dengan
kenyataan yang ada, misalkan kompetensi tertentu.
3. Proses Perencanaan
Dalam perencanaan
pendidikan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama yang akan terkena
dampak langsung atas kegiatan pendidikan tersebut. Tampaknya ada suatu
"hukum" atau setidak tidaknya suatu kecenderungan dari sifat manusia
bahwa mereka akan merasa 'committed' terhadap suatu keputusan apabila mereka
terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan. Untuk itu diperlukan:
- Libatkan
peserta untuk menyusun rencana pendidikan, baik yang menyangkut penentuan
materi pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain.
- Temuilah
dan diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut
pendidikan tersebut.
- Terjemahkan
kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan
dan ke dalam materi belajar.
- Tentukan
pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait
siapa melakukan apa dan kapan.
4. Memformulasikan Tujuan
Setelah
menganalisis hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada,
langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam
proses perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan
dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut di atas. Dalam setiap proses belajar, tujuan belajar
hendaklah mencakup tiga hal pokok yakni: kognitif, afektif, dan psikomotorik.
5. Mengembangkan Model Umum
Ini
merupakan aspek seni dan arsitektural dari perencanaan pendidikan dimana harus
disusun secara harmonis antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan
diskusi kelompok besar, kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya.
Dalam hal ini tentu harus diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas
satu persoalan dan penetapan waktu yang sesuai.
6. Menetapkan Materi dan
Teknik Pembelajaran
Dalam
menetapkan materi dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
- Materi pembelajaran hendaknya ditekankan pada
pengalaman-pengalaman nyata dari peserta belajar.
- Materi belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan
berorientasi pada aplikasi praktis. Bukan
berarti materi yang disusun hanya bersifat pragmatis.
- Metoda
dan teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat
pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta, tetapi akan lebih
baik jika bersifat mendorong ketajaman analisis dan metodologi.
- Metoda
dan teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih
bersifat partisipatif, atau dalam bahasa Freire “dialogis”.
7. Peranan Evaluasi
Pendekatan evaluasi
secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang
dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai
hasil belajar orang dewasa. Ada
beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa
yakni:
- Evaluasi
hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah
mengikuti proses pembelajaran / pelatihan.
- Sebaiknya
evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta belajar
itu sendiri (Self Evaluation).
- Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur
keberhasilan.
- Ruang lingkup materi evaluasi "ditetapkan
bersama secara partisipatif" atau berdasarkan kesepakatan bersama
seluruh pihak terkait yang terlibat.
- Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi
penyelenggaraan program pendidikan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan
program.
- Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar